Kamar Pengap Remang-remang

Dalam ruangan itu ia hanya dapat duduk terpaku. Ardi yang memintanya duduk diam di dalam sana, sendiri. Awalnya ia tak mau, tapi Ardi memaksa.

Ia menyerah, penyerahan diri atas dasar cinta. Cinta, ia mulai mempertanyakan cinta. Pertanyaan yang dulu tak pernah muncul tapi sekarang menguasai setiap sudut kepalanya, karena Ardi.

Kalau Ardi memang mencintainya, kenapa ia dibiarkan sendiri di ruangan ini, sementara Ardi pergi entah ke mana.

“Kamu diam dulu di sini sebentar. Nanti aku kembali,” begitu ucapnya, berusaha meyakinkan.

Tapi ia tak yakin. Ia takut. Ruangan ini hanya remang-remang, cahaya hanya datang dari lampu jalanan. Ia tak tahu berada di mana. Yang ia tahu hanyalah bahwa ia berada di sekitar Depok dan Lenteng Agung. Tapi entah ruangan ini berada di mana di antara kedua daerah itu.

Ia tak tahu bukan karena ketika dibawa ke sini matanya ditutup, bukan. Tapi tadi ia terlalu terfokus dengan degup jantungnya. Ardi bersikap tidak biasa. Ardi berbeda. Dan, bukan hanya karena berada di ruangan itu ia takut, tapi juga karena sikap Ardi.

Ardi terlalu mencintainya, itu memang bagus. Tapi Ardi juga terlalu menginginkannya. Keinginan seorang pria pada seorang wanita. Ia bisa mengerti itu dari cara Ardi menyentuh tangannya, walau sebelum itu ia tak pernah bersentuhan dengan pria mana pun.

Ia masih ngeri. Mungkin sudah lebih dari lima menit Ardi meninggalkannya sendiri dalam ruangan yang mulai pengap itu. Ia berdiri, berusaha berjalan ke arah jendela. Persetan jika Ardi marah karena ia tak duduk diam seperti yang diinginkan Ardi.

Ia menggeser tirai jendela itu. Tapi jendela itu tak dapat dibuka. Sial! Jendela itu tak dapat berfungsi sebagai penghantar angin—atau sebagai alat kabur—, hanya sebagai penghantar cahaya. Yah, paling tidak ruangan ini agak lebih terang.

Entah kamar siapa ini. Yang pasti kamar ini jorok! Di atas sebuah meja yang terletak di sudut, ia dapat menemukan berpuluh puntung rokok yang terletak di atas sebuah asbak mungil yang sepertinya sudah ingin berontak karena lelah menopang semua puntung itu.

Tempat tidur…berantakan. Seprainya menjuntai-juntai ke bawah.

Oh Tuhan, apakah ia akan kehilangan ‘mahkotanya’ di tempat seperti ini? Ini bukan rencananya menghabisi malam pertama. Bukan di tempat kotor ini dan bukan dengan pria yang bahkan belum meminangnya…

Kondom! Jangan-jangan Ardi sedang membeli kondom. Ia mulai semakin dijalari rasa ngeri yang teramat sangat. Ia menghambur ke arah pintu. Terkunci! Ia mulai membenci Ardi. Ia sudah pasti akan memutuskan laki-laki itu. Bahkan kalau sampai ia berani menampakkan wajah sekarang, ia akan menghajarnya habis-habisan. Walau ia tahu, pilihan terakhir barusan bukan ide terbaik. Ia akan mudah dikalahkan oleh lelaki berbadan besar itu.

Krek…

“Hai, sayang. Maaf ya…aku bikin kamu lama menunggu.”

Ia diam, tak membuka mulut.

“Mungkin semua ini nggak romantis. Untuk itu aku minta maaf…tapi…aku cuma mau tunjukkan ke kamu betapa kacau aku sebelum ketemu kamu.”

Ia bingung.

“Ini kamar kosku yang lama. Sebelum aku ketemu kamu. Sekarang semua berbeda. Aku sudah kembali ke rumah. Dan aku mau kamu tahu bahwa kamu begitu besar artinya dalam hidupku.”

Kalau ini caranya merayunya untuk mau tidur dengannya, Ardi salah besar.

“Aku cuma mau kamu terima ini,” Ardi menyodorkan sebuah kotak berbentuk hati, “dan menerimaku apa adanya…”

Dibukanya kotak itu…cincin!

“Ardi, kamu lagi melamar aku???”