Showing posts with label Indonesian. Show all posts
Showing posts with label Indonesian. Show all posts

Perawan

Dia hanya duduk mematung. Matanya menatap kaget pada layar monitor. Sebuah simbol wajah bundar yang biasanya dipanggil smiley face justru tidak sedang tersenyum, melainkan mengeluarkan butiran-butiran air mata. Lalu ada kalimat yang mengiringi.

pretty_babe: dia merenggutnya kemaren malam, mas.
inilahsaya: kenapa kamu kasih?
pretty_babe: aku cinta dia, mas.
inilahsaya: ya udah, jangan nangis kalo gitu.

Dia pun log off, tidak ingin lagi bicara dengan siapa pun di dunia maya itu. Hatinya lelah. Setiap dia masuk ke chat room, ia akan berkenalan dengan banyak gadis. Ada yang single, ada yang sudah menikah, atau kumpul kebo kalau di luar negri. Ada yang masih perawan, ada yang sudah kehilangan, menghilangkan atau dihilangkan keperawanannya.

Yang baru saja diajaknya bicara entah berada di kategori kehilangan, menghilangkan atau dihilangkan. Sepertinya ia menyesal tapi kenapa ia bilang bahwa ia mencintai pria itu. Gadis pretty_babe itu telah dikenalnya sejak setengah tahun yang lalu di sebuah chat room dewasa. Umurnya baru enam belas lebih enam bulan saat itu. Sekarang sudah tujuh belas.

Padahal dia menyukai gadis itu. Mereka memang belum pernah bertemu, hanya bertukar foto. Rencananya dia akan mengajaknya makan malam pada hari ulang tahunnya, kemarin malam. Tapi seminggu yang lalu gadis itu bercerita bahwa ia baru ditembak seorang cowok yang ia kenal di chat room. Gagal. Setelah pengakuan pretty_babe tadi, dia akhirnya berniat untuk memblokir nick name gadis itu dari daftar teman chatnya. Bukan berlagak suci tapi dia kecewa.

- 1 tahun kemudian -

Dia berjalan-jalan di mall, sendiri. Pagi hari, di hari jum'at. Da berdiri di lantai 1 memandang ke bwah dengan bersandar pada tiang. Melihat para pengunjung berlalu lalang.

Bahunya ditepuk.

Pretty_babe. Perutnya buncit. Wajah pretty_babe menyunggingkan senyum. Perutnya buncit. Pretty_babe mengecup kedua belah pipinya. Perutnya buncit.

Hatinya menangis.

Entah...

Semalam aku terdiam di ambang jendela. Duduk dengan kedua kakiku melayang bebas. Aku memandang langit. Tak ada bintang, apalagi bulan. Hanya ada gelap.

Sejak kecil aku suka sekali duduk diam memandang langit. Tapi malam tadi adalah langit tergelap yang pernah kulihat. Bukan mendung, tapi gelap. Tak ada hujan, hanya gelap.

Lelah menengadah, terkadang aku menunduk. Aku melihat ke bawah. Hanya ada rerumputan dan beberapa mawar di setiap sudut taman di bawahku.

Lelah menunduk, aku menatap lurus ke depan. Hampa...

Baru kemarin rumah itu dirubuhkan. Suaranya bising. Tapi yang lebih terganggu bukanlah telingaku dan gendang yang ada di dalamnya, melainkan hatiku.

Seakan-akan para pekerja itu menghancurkan jiwa sahabatku, bukan rumahnya. Menghancurkannya sekali lagi, setelah ia hancur--secara harafiah--akibat tindihan kereta di atasnya dan desakan rel di bawahnya.

Dan sekarang aku hanya dapat menengadah lagi, menatap langit yang gelap. Langit tergelap yang pernah aku lihat.

Selamat jalan sahabat...entah...kapan lagi aku bisa melihatmu, utuh!

100 x Lebih Baik

Sebulan lagi masa liburan panjang datang. Untuk aku yang uang saku selalu pas-pasan, liburan tidak sama dengan jalan-jalan ke sana-sini, mengunjungi kota itu, pulau ini, negara itu, berbelanja ini-itu. Sama sekali tidak! *wajah serius mode on*
Aku justru dengan rajinnya berselancar di dunia maya atau membenamkan wajah di koran, mencari kata ‘part timer’ dan ‘temporer’ yang diikuti dengan kata vacancy. Tahun lalu juga begitu. Dengan suksesnya aku bisa part timer di sebuah advertising ternama. Tapi aku masih harus banyak belajar. Ya wajarlah. Saat itu aku baru semester empat. Ilmuku masih super cetek.
Nah tahun ini aku berharap dapat pekerjaan juga. Lumayan buat tambahan uang kuliah atau beli buku, supaya Mama nggak perlu teriak-teriak di pagi hari kalau tanganku sudah menengadah pasrah di hadapan Beliau dengan wajah *memelas mode on*.
Ada sekitar lima lowongan yang sudah kulamar. Hm, nggak semua berhubungan dengan grafis memang tapi cuma lima itu yang ketemu. Yang grafis cuma dua, satu customer service, satu SPG, satu sekretaris.

***

Setengah bulan menjelang liburan. Aku masih sibuk belajar untuk ujian dan bergerumul dengan bahan-bahan makalah yang entah kenapa nggak selesai-selesai aku kerjakan.
Tenonettt…tenoonononeettt…HP-ku berbunyi dan bergetar. Hm, nomor tak dikenal, kepala 520. Bohlam berbinar-binar di atas kepalaku, lambang $—eh, Rp maksudnya—memenuhi bola mata hitamku. Panggilan kerja! Tuh kan betul. Besok aku dipanggil untuk interview. Jam 4.
Eh, tunggu dulu…itu untuk posisi apa ya? Hm, kutelepon balik. Tuuutt…tuuttt…ttuutt…Waduh, sepertinya tadi itu salah satu nomor anak hunting. Bahaya! Kalau nggak tahu untuk posisi apa, bisa-bisa saltum alias salah kostum. Duh…aku harus pakai apa nih besok?

***

Trik jitu menangkis saltum, aku memakai kemeja putih model cewek bermotif garis-garis abu-abu yang dimasukkan ke dalam celana hitam. Di tasku, sudah kusiapkan sebuah jaket cordurai abu-abu yang cukup funky. Jadi kalau ternyata perusahaan itu menganut system baju bebas dan funky, aku aman.
Dan jaket pun tetap tersimpan manis di dalam tas. Aku tidak terlalu saltum. Mereka bukan sedang mencari graphic designer, ataupun CS ataupun SPG ataupun sekretaris. Mereka mencari seorang ‘junior secretary’ alias resepsionis.
Dan…know what?! Aku diterima. Aku pun menerima karena gaji yang mereka tawarkan sangat teramat menggiurkan. Aku mulai bekerja dua minggu lagi, tepat setelah aku selesai ujian dan menyerahkan semua makalah.

***

My middle name untuk hari pertamaku di perusahaan itu adalah : CANGGUNG. Aku seperti bukan diriku. Setengah hari aku di-training seorang sekretaris senior, aku sudah mulai dilepas mengerjakan ‘pekerjaanku’.
Aku panik. Lewat dari jam sepuluh, telepon seakan tidak pernah berhenti berdering. Yup, selain sebagai resepsionis aku juga ternyata bertugas sebagai operator telepon. Curaang! Pada saat wawancara, Ibu Wita, sang manajer HRD, tidak mengatakannya sama sekali.
Setelah jam makan siang, aku ke ruangan Ibu Wita.
“Bu, boleh saya minta job description untuk pekerjaan saya?” tanyaku.
“Wah, maaf, Rania, untuk posisi kamu tidak ada job description. Hm…seharusnya kamu minta sebelum kita sign kontrak. Nggak apa kan?”
Aku tentunya tidak menjawab apa-apa. Sebelum aku keluar dari ruangannya, Ibu itu berkata lagi, “Tapi di mana-mana resepsionis itu memang merangkap sebagai operator telepon.”
Aku masih tidak berkata-kata, hanya berusaha tersenyum dan meninggalkan ruangannya.
Ternyata bukan hanya kejutan itu yang ditawarkan perusahaan tempatku bekerja itu. Minggu kedua pun tiba, tepat jam delapan pagi, seorang pria yang berkedudukan sebagai salah seorang manajer di perusahaan itu masuk ke reception area, wilayahku, dengan wajah serius.
Keren banget! Tipe pria bule yang metro sexual. Namanya Mr. Harry Winston, aku diminta membantunya sambil menunggu sekreatris sebenarnya yang telah sign kontrak tapi baru bisa masuk kerja tiga minggu lagi.
Dengan semangat menggebu-gebu aku mengerjakan semua yang diinginkannya. Aku beberapa kali dipanggil ke ruangannya—saat terbaik untuk curi-curi pandang. Pertama aku harus membantunya menghubungi pemilik rumah yang disewanya, ada masalah dengan kamar mandi dan teleponnya. Kedua aku harus menghubungi beberapa klien dan membuat janji dengan mereka. Selanjutnya aku diminta mengerjakan expense report-nya ketika bepergian. Lalu ini, lalu itu, lalu begini, lalu begitu.
Sepanjang hari aku tidak bisa duduk tenang. Selain telepon yang berdering, kepalaku penuh dengan berbagai tugas menyebalkan dari sang manajer yang ganteng nan wangi. Untungnya aku menyempatkan diri makan siang walau hanya di pantry bersama seorang karyawan lainnya yang ternyata bekerja sebagai salah seorang tim dari si manajer tampan.
Dari mulutnyalah aku mengetahui beberapa sifat sang manajer yang ternyata telah cukup membuat gerah para bawahan dan rekan kerjanya. Kata si office girl, sang manajer sudah empat kali mengganti sekretaris. Ih!

***

Sesuai kontrak, aku hanya bekerja selama satu bulan. Ternyata itu memang juga sesuai dengan batasan ketahananku di perusahaan itu.
Nggak, nggak ada tawaran untuk memperpanjang kontrak.
Yang menggantikan aku datang dua hari sebelum hari terakhirku tiba. Ia mencatat semua hal yang aku kerjakan. Ia pun sangat sigap dalam menjawab telepon. Sekretaris si manajer tampan mulai bekerja juga di hari yang sama. Ia begitu perhatian dengan kebutuhan-kebutuhan pria itu. Ia juga dengan lancar membuatkan janji dengan para klien. Tanpa hambatan ia pun mampu mengatur jadwal si boss dengan baik dan rapih. Semua expense report juga tertata dengan rapi. Intinya, middle name kedua karyawan baru itu adalah KETERATURAN. Mereka lulusan akademi sekretaris. Semua tugas kesekretarisan sudah terpatri dengan demikian dalam di kepala mereka. Hebat!
Aku? Aku seniman. Pekerjaan sebagai resepsionis atau sekretaris mungkin memang tidak cocok untukku. Aku tidak bisa menikmatinya. Mereka bisa karena memang itu adalah bagian dari cara hidup atau cara berpikir atau passion mereka. Mereka menikmatinya sehingga dapat melakukan pekerjaan itu seratus kali lebih baik daripada aku. Wow!
Tapi dalam waktu sebulan itu aku belajar banyak. Aku hanya bisa menikmati pekerjaaan sebagai graphic designer karena itulah aku, itulah passion terbesarku. Mungkin aku dapat melakukan pekerjaan sebagai graphic designer seratus kali lebih baik daripada mereka.
Hm…liburan masih dua minggu lagi.
Saatnya mencari pekerjaan lagi.
Dicari :
Beberapa Graphic Designer untuk project.
Walk in interview
Senin, 12 Oktober, jam 08.00-09.00
Nah…


*Cerpen ini pernah dimuat di majalah Spice! bulan April tahun lalu seperti yang aku ceritain di sini*

*This short story was published in Spice! magazine*

Sang Manipulator

Sore itu, Revi tidak langsung pulang ke kos-kosannya. Ia meminta sang sopir taksi membelokkan kendaraan ke arah Jl. Asia Afrika. Ia berniat mengunjungi sebuah pusat pertokoan di daerah itu. Well, mungkin berbelanja, mungkin untuk cuci mata. Yang terakhir barusanlah yang lebih mungkin menjadi alasan utama Revi, sekarang kan baru tanggal 14, artinya gajian masih dua minggu lagi. Namun, ternyata bukan itu alasannya.

Kemudian, dengan kemejanya yang berwarna merah muda dan rok agak mini berwana senada, tak lupa tas jinjing dan sepatu dengan warna yang tidak berbeda, Revi turun dari taksinya. Rambutnya yang panjang kecoklatan—natural—digulung dengan anggunnya. Pipi putihnya yang mulus dipoles blush on—tentunya—dengan warna merah muda juga, sepeti halnya bibir mungilnya, bersapukan lipstik merah muda.

Hari itu, yang tepat merupakan hari valentine, memang Revi menjadi gadis termanis di kantor. Di atara rok dan sepatunya, betis mulus putih Revi—yang dibalut stocking putih transparan—juga terlihat ‘manis’ di mata pegawai pria di kantornya. Tadi pagi, lehernya yang terlihat di antara jas kerja merah mudanya dan sanggulan rambutnya yang membuat semua orang—pria-wanita, klien-pegawai—di kantornya menengokkan kepala, kini lebih jelas lagi karena jas itu hanya disampirkan di tangan kanannya—karena yang kiri menjinjing tasnya—dan leher itu terlihat lebih jenjang dengan sedikit bahu yang telanjang.

Revi tahu itu dan ia menikmati perhatian semacamnya. Kali ini ia yakin, setiap mata di pusat pertokoan itu akan berpaling padanya. Lalu, di matanya ada kilatan kegembiraan walau bibirnya tidak menyunggingkan senyum sedikit pun. Bibirnya hanya bergantung di wajahnya dengan anggunnya. Ia memang pandai mengolah wajah cantiknya dan itu membuatnya jauh lebih menarik lagi.

Terbiasa digilai pria—bahkan juga oleh para wanita pencinta sejenis—, Revi sudah pandai dengan kata penolakan. Menolak juga merupakan kegemarannya. Ia sangat suka jika yang ditolaknya kemudian mati-matian mengejarnya. Kalau menguntungkan, ia akan berbaik hati menemani beberapa hari saja, selebihnya ia akan mencari gara-gara sehingga ia yang akan ditinggalkan, namun tanpa lupa meninggalkan kesan mendalam sehingga orang tersebut menyesal dan merasa bersalah padanya. Manipulator sejati!

Malam itu ia juga akan melakukan kebiasaannya memanipulasi. Kencannya akan dimulai pada pukul setengah sembilan malam. Dan tepat di hari valentine itu, Revi akan melepaskan kungkungan lelaki yang sudah dua minggu ini menguasainya. Lelaki itu lumayan berduit, hanya saja, nafasnya bau, dan ia akan menikah sebentar lagi. Revi tidak suka masalah dalam percintaan. Ia tahu bahwa lelaki itu akan melakukan segalanya, termasuk membatalkan pertunangannya, jika memang Revi menghendaki. Namun, bukan lelaki semacam itu yang diinginkan Revi menjadi ‘penguntit’ sejati dalam sisa hidupnya nanti.

Tiba di tepi kolam di pusat pertokoan itu, Revi masih punya waktu satu setengah jam. Ia memutuskan memasuki sebuah tempat perbelanjaan yang menyediakan banyak pakaian dan aksesoris.

Revi sangat menyukai pakaian dan aksesoris. Walaupun bukan artis, koleksinya tidak sedikit. Ia suka segalanya matching. Namun ia tidak suka terlihat membosankan, jadi ia selalu mencoba me-mix-and-match-kan pakaian-pakaian dan aksesorisnya. Namun, ia tidak mempunyai uang terlalu banyak. Kalau memang sedang tidak ada yang membelikan, ia akan melihat-lihat saja di pusat pertokoan semacam plaza atau mall, lalu mencari-cari yang hampir serupa di pusat grosir.

Yang membuatnya kesal, hanya sebagian kecil toko-toko di pusat grosir dapat menerima credit card, kartu kredit, bahasa Indonesianya. Jadi seringnya, ia akan mengambil sejumlah uang dari kartu kreditnya untuk membayar segala macam belanjannya di sana.

Baru lima menit berada di pusat perbelanjaan itu, matanya tertuju pada sebuah selop tinggi berwarna baby green. Ia sudah punya sebuah tas berwarna senada. Pakaian memang belum ada, tapi putih pun akan terlihat manis dengan aksesoris serba baby green.

Kakinya yang terawat rapi dan terbalut stocking keluar dari sepatu merah mudanya dan menyusup ke dalam selop yang berhak lebih dari lima sentimeter itu. Revi sebenarnya menghindari selop yang terlalu tinggi. Tubuhnya yang tinggi semampai akan terlihat seperti raksasa jika ia memaksakan diri dengan selop atau sepatu tinggi. Tapi yang satu itu susah untuk diacuhkan, warnanya benar-benar membuat Revi jatuh cinta

Design selop itu juga sangat sederhana dan terlihat sangat chick, anggun, ada unsur kasual namun dapat juga dipakai dalam suasana formil, misalnya di kantor, pada hari Jum’at. Senangnya Revi. Selama itu, Revi belum pernah melihat yang semacam itu di pusat grosir. Well, kenapa tidak, pikir Revi. Ada kartu kredit, walaupun ia belum gajian.

“Ditolak, Mbak,” kata pegawai kasir yang mungil dan berkuncir kuda, yang berdiri dengan sopan di hadapan Revi, di balik sebuah mesin hitung.

“Oh, ditolak ya?” tanya Revi sambil mengeluarkan kartu lainnya, “coba yang ini deh, Mbak.”

Beberapa menit berlalu, “Mbak, yang ini ditolak juga.”

Seluruh wajah Revi mulai sewarna dengan pakaian dan asesorisnya.

“Coba ini,” kata Revi dengan gaya dibuat se-cool mungkin.

Pegawai kasir menggeleng ke arah Revi sambil mengembalikan kartu.

Revi berdo’a dalam hati, semoga yang satu lagi tidak ditolak, sambil menyodorkan kartu lainnya.

Hampir satu menit, belum ada reaksi. Mesin mungil berwarna biru yang teronggok di sisi sang pegawai kasir itu tidak juga mengeluarkan bunyi teret-teret atau semacamnya yang pasti akan terdengar indah di telinga Revi malam itu.

Lebih dari satu menit, yes, tidak ditolak. Bunyi teret-teret itu memang indah bagi Revi.

Sambil menenteng belanjaan, Revi kembali berkeliling. Matanya terpaku pada sebuah jas kerja semi casual berwarna putih dengan potongan sederhana. Pikiran Revi melayang. Jas kerja itu berkerah setengah turtle neck, dengan bros hijau disematkan di atas dada kanannya, dipadu dengan tas baby green dan selop barunya, pasti akan terlihat indah. Keren akan menjadi komentar teman-teman kantornya.

Revi mendekati jas itu. Pertama-tama yang diraihnya adalah bandroll harga. Emosi sekali Revi. Tujuh ratus delapan puluh lima ribu rupiah. No discount!

Tidak! Kali ini emosinya menang dari hawa nafsunya. Ia akan mencari model serupa di pusat grosir atau menjahitkan dengan model yang sama persis di langganannya di Bendhill.

Selesai sudah acara berbelanja. Ia kembali ke rencana semula, menemui lelaki bernafas ‘menyengat’ itu.

Selama dua jam Revi menemani lelaki itu untuk terakhir kalinya. Lelaki itu ingin main bowling, ia turuti, ingin minum kopi, juga ia turuti, lalu yang tidak dapat diturutinya hanyalah permintaan gilanya untuk check in. Tanpa sepatah kata pun, Revi meninggalkannya.

That’s it, kata revi dalam hati.

Revi pulang naik taksi lagi. Sebenarnya ia sudah mengantuk tapi tetap dibuka matanya untuk meyakinkan diri bahwa sang sopir tidak sedang membawanya kabur.

Setengah jam saja waktu yang dibutuhkan Revi untuk tiba di rumah kosnya di bilangan Jakarta Selatan. Ia memberikan tips yang lumayan kepada sang sopir, sekedar ungkapan terima kasih karena tidak membawanya kabur. So silly.

Heran, lampu tengah rumah kosnya masih bersinar terang, biasanya hanya redup saja, seperti perintah pemilik rumah agar biaya listrik tidak membengkak. Pasti ada tamu, gumam Revi dalam hati.

Ia paling malas jika harus melewati pintu depan sementara di sana ada tamu, apa lagi jika itu adalah salah seorang teman sekosnya yang sedang ‘bercengkerama’ dengan pacarnya. Namun, hari itu kunci pintu belakang tertinggal di kamar kosnya tadi pagi. Akhirnya terpaksalah ia berjalan menuju ruang utama yang terang benderang tersebut.

“Nah, ini yang saya tunggu-tunggu sejak tadi,” kata seorang pria kekar berkulit hitam dengan jaket berwarna abu-abu gelap sambil memegang sebuah kertas yang telah dilipat di tangannya.

“Maaf ya, Bapak ini siapa?”

Lelaki itu menyodorkan tangannya. Revi ragu sejenak. Matanya mengamati punggung tangan hitam lelaki itu dengan telapak yang tidak halus dan tebal. Merasa tidak enak karena telah melakukan pengamatan yang sebenarnya tidak perlu itu, Revi pun mengulurkan tangan dan mereka bersalaman. Tangan lelaki itu sangat kokoh.

“Saya Heru. Mbak Revi kan?” tanyanya sopan, Revi mengangguk.

“Akhirnya kita benar-benar bisa bertemu ya, Mbak.”

“Tapi Pak Heru ini siapa? Kok kenal saya? Sepertinya saya belum pernah mengenal Bapak.”

“Panggil saja Mas Heru.”

Revi menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi rotan di hadapan Heru.

“Ok, Mas Heru. Siapa sebenarnya Mas ini?”

“Mbak Revi kalau tidak salah punya enam kartu kredit?”

“Untuk apa Mas Heru tahu itu?”

“Itu bagian dari tugas saya.”

“Maksud Mas Heru?”

“Sudah sebulan ini kan Mbak Revi ditelepon bagian penagihan bank kami?” tanya Mas Heru sambil menyodorkan amplop berlogokan sebuah bank provider salah satu kartu kredit yng dimiliki Revi.

Revi tidak terlalu terkejut. Di kantornya yang lama, ia pernah didatangi seorang debt-collector, jadi bisa dikatakan ia semestinya tahu bagaimana cara menangani lelaki satu ini. Sayangnya lelaki ini agak berbeda dengan debt-collector yang pernah ia temui dulu. Lelaki ini memiliki kesopanan yang bisa dikatakan melebihi yang seharusnya dimiliki seorang debt-collector.

“Mas Heru ini seorang debt-collector, betul?”

Heru mengangguk.

“Jadi, saya mesti bagaimana? Saya tidak bisa membayar sekarang. Saya nggak punya uang.”

“Saya tahu, Mbak. Kalau Mbak punya uang, tentu tagihan Mbak sudah dibayarkan sejak kemarin kan?”

Revi mendengus. Perasaannya antara terkesan, kesal dan terimidasi dengan pendekatan yang dilakukan lelaki itu. Lagi-lagi mata Revi mengarah pada tangan lelaki itu. Ia teringat sensasi yang ditimbulkan ketika tangannya direngkuh dan digenggam erat-erat.

“Jadi?”

“Saya cuma mau tanya kira-kira kapan Mbak Revi bisa melunasi?”

“Habis gajian mungkin.”

“Sekarang tanggal 14. Sekitar dua minggu lagi?”

“Yah, begitulah.”

“Ok, akan saya cek account Mbak dalam dua minggu lagi. Mari, saya pamit dulu. Saya rasa Mbak perlu istirahat.”

Heru beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu rumah.

“Mas Heru,” panggil Revi, “kok Mas Heru tahu saya punya enam kartu kredit?”

“Yah bagaimana ya,” Heru menghentikan langkahnya di samping pintu yang terbuka, “informasi.”

“Dari?”

“Sumber yang saya tidak dapat sebutkan. Mari Mbak Revi, selamat malam. Saya tunggu kabarnya dua minggu lagi.”

Selanjutnya Heru bergerak cepat ke arah pagar. Sementara itu, Revi masih termangu di ruang tamu. Kepalanya terasa sakit. Enam kartu kredit. Enam tagihan. Jari dan otaknya bersama-sama menghitung kira-kira berapa cicilan terendah yang dapat ia bayarkan untuk semua kartu kredit itu yang jatuh temponya hampir bersamaan. Kepalanya tambah sakit, nyut-nyut.

Malam itu Revi tidak bisa tidur nyenyak. Angka-angka memenuhi kepalanya. Kalkulasi jumlah gajinya dikurang beberapa keperluan pokoknya, dikurang semua pembayaran cicilannya menghasilkan angka...minus. Takut salah berhitung, Revi mencari kalkulator mininya. Beberapa angka dikurang angka lainnya, menghasilkan angka...minus. Memang minus jika Revi harus membayar semua cicilan minimal tagihan kartu kreditnya.

Semua billing statement kartu kreditnya berceceran di sekeliling tempat tidurnya. Mata Revi baru bisa tertutup jam tiga pagi, itu pun direkatkan oleh tetesan air mata yang tak kunjung habisnya sebelum itu.

Jam lima, matanya kembali terbuka. Ketukan pintu membangunkannya, seiring dengan bayangan Heru dan billing statement yang masih berserakan dan kusut di sekelilingnya.

“Rev, mau ikut jogging gak?” suara Rita meneriakkan ajakan yang biasa didengar Revi pada Sabtu pagi.

“Nggak dulu, Rit,” jawab Revi dengan suara serak dan agak bindeng.

Walau begitu, Revi tetap beranjak dari tempat tidurnya. Kakinya melangkah menuju meja rias. Cermin di mana ia melihat wajahnya sangat tidak bersahabat. Di mata Revi, semua kerutan dan bintik-bintik seakan muncul bersamaan di sekujur wajahnya.

Rambutnya tetap tergelung dengan beberapa juntai menggelayut di sekeliling pipinya. Biasanya sebelum tidur, Revi selalu menyisir rambutnya dengan sikat sisir kesayangannya.

Pagi itu Revi benar-benar tidak mau keluar kamar, padahal ia harus ke salon karena salah seorang teman kantornya akan menikah siang itu. Ke salon, keluar uang! Terlebih lagi, salon langganannya bisa menerima pembayaran dengan kartu kredit.

Revi membuka dompetnya. Hanya tinggal dua kartu yang bisa digunakannya. Yang empat sudah pasti akan ditolak, seperti semalam. Ia teringat Heru, lelaki itu memang debt-collector dari bank yang mengeluarkan salah satu kartu kredit yang ditolak itu.

Heru, jabatan tangannya yang kokoh dan gayanya yang mengintimidasi. Tidak pernah sebelumnya perasaan Revi begitu terusik. Tentu saja, kan Heru seorang debt-collector, pasti ia tahu bagaimana memberi kesan mendalam bagi sasarannya.

Tapi Revi tidak merasa takut. Terintimidasi bukan berarti takut. Well, ok, mungkin ada unsur takut di dalam kata intimidasi tapi bukan takut yang dirasakan Revi. Ia hanya merasa tidak nyaman. Tepatnya, merasa ditelanjangi oleh Heru. Hanya dengan mengetahui keberadaan enam kartu kredit miliknya, Heru seakan sudah mengetahui setiap detil hidup dan diri Revi.

Inginnya Revi, seperti biasanya, tidak perduli, tapi ternyata ia perduli, sangat perduli. Bagaimana kalau sampai kakaknya tahu? Kakaknya sudah pernah memperingatkan agar tidak memiliki sebegitu banyak kartu kredit. Tapi itu memang salahnya, semestinya ia tidak menuliskan nama kakaknya pada setiap aplikasi. Tapi siapa lagi? Ibunya sudah lama meninggal, apalagi ayahnya, sejak Revi kecil. Adiknya lebih kacau lagi, Revi sendiri tidak yakin di mana si bungsu yang bekerja sebagai penyanyi di kafe-kafe itu tinggal.

Yang pasti kakak dan adiknya tidak bisa dipinjami uang. Kakaknya pasti akan ceramah lagi agar Revi berhati-hati dengan uang. Adiknya pasti justru akan berbalik meminta pertolongan darinya.

Yang pasti lagi, sepanjang akhir minggu itu hidup Revi tidak lagi bisa tenang. Bayangan kartu kredit, billing statement dan Heru memenuhi kepala, hati, jiwa dan raganya, terutama bayangan sang debt-collector yang memberikan kesan mendalam itu.

Dua minggu kemudian, Senin pagi, jam sembilan tepatnya, Revi ditelepon. Heru!

“Bagaimana, Mbak? Siap membayar? Kalau Mbak mau, kami bisa datang ke tempat Mbak untuk memudahkan pembayaran, apalagi jika dilunasi semua.”

“Pak Heru, MASIH JAM SEMBILAN PAGI!” Revi berteriak, “Apa saya nggak dikasih kesempatan bernafas dulu?”

“Saya rasa udara dalam paru-paru Mbak Revi sudah cukup banyak. Tadi pagi Mbak Revi sempat jogging kan?”

“Pak Heru membuntuti saya? Memata-matai saya? Saya bisa lapor polisi!”

“Silahkan Mbak, saya hanya memastikan bahwa Mbak dalam keadaan baik-baik dan tidak kabur, sehingga tagihan dapat segera dibayarkan. Saya hanya menjalankan tugas, Mbak.”

“Kabur? Apa maksud Pak Heru? Mau kabur ke mana saya?”

“Biar lebih akrab, panggil saja Mas Heru, ya, Rev?”

Ting! Lampu menyala di kepala Revi.

“Ok, Mas Heru, nanti malam ada acara?”

“Tidak. Revi ada?”

“Ada, saya perlu ketemu Mas Heru. Mas tahu kan nomor HP saya? Tolong Mas sms nomor Mas, nanti sore saya sms tempatnya.”

Entah Heru atau Revi yang masuk jebakan. Mereka berpacaran. Dua minggu setelah mereka memutuskan berpacaran, Heru melaporkan ke atasannya bahwa ia kehilangan jejak Revi. Mereka berpacaran selama dua setegah bulan, selanjutnya Heru benar-benar kehilangan jejak Revi, kekasih hatinya.

Kembalilah, untukku...

Malam itu aku sendiri. Ia baru saja pergi. Tangannya mengangkut sebuah kopor kecil berisi pakaian.

Ia pergi dengan tergesa-gesa. Ia bahkan lupa mengenakan topinya.

Topi itu tergeletak pasrah di atas meja kecil di sudut kamar. Dan aku duduk pasrah di sudut kamar yang lain.

Kucoba menghalangi kepergiannya. Tapi, tidak bisa.

Ia selalu begitu setiap kami selesai bertengkar. Ia akan pergi…kadang lama, kadang kurang dari sehari.

Tapi, ia pernah mengancam untuk tidak akan pernah kembali. Tapi, ia selalu kembali.

Dan, tadi ia mengancam lagi. Dan, kali ini aku benar-benar takut ia tak kembali.

Topinya. Mungkinkah itu akan membawanya kembali ke sini?

Mungkin. Tapi, ia kembali untuk topinya. Ia tidak kembali untukku.

Menerima

Hari ini aku berniat untuk tidak ke mana-mana. Hawa dingin di luar membuatku malas bergerak. Dan, aku benar-benar berharap tak harus bergerak.

Gerakan itu bisa membuka kedua mataku akan keadaan yang harus kuhadapi walau aku tak ingin. Aku hanya ingin meringkuk diselimuti hawa dingin sambil memejamkan mata.

Tapi, aku harus bergerak. Aku harus membuka mata.

Mas Wan berangkat pagi ini. Aku benci setiap kali harus menerima kenyataan bahwa aku tak bisa mengelak dari tugas mengantarnya sampai di pintu dan berdo'a dalam hati agar pesawat yang akan dikemudikannya akan selamat sampai tujuan.

"May, ayo bangun dong..."

Tangan Mas Wan lembut mengusap punggungku. Aku berbalik dan memeluknya.

"May, jangan begitu dong. Setiap kali aku harus terbang, seakan itu penerbangan terakhirku. Kamu selalu layu dan tak bersemangat. Aku butuh istri yang kuat."

Ah, Mas Wan...sewaktu melamarku, kamu tidak mengatakan apa-apa soal butuh istri yang kuat. Aku memang lemah. Aku takkan sanggup selalu harus menenangkan diri dan menunggu saat-saat kamu menelepon dari sisi dunia yang lain.

Tapi, aku tak punya pilihan, bukan? Tak mungkin aku memaksamu meninggalkan pekerjaan yang kamu cintai?

Jadi, kamu juga tak punya pilihan, Mas. Kamu harus menerimaku sebagai istrimu yang terlalu menyayangimu, yang selalu ketakutan kehilanganmu, yang selalu akan bersikap aneh setiap kamu akan terbang.

Bulan Hitam

"Mak, bulannya hitam," ujar Putik, anakku.

"Hmmhh..." aku tak mampu berkata-kata. Tubuhku letih, kepalaku penat, hatiku lelah.

"Mak...Mak...Emak!" tangan mungilnya mengguncang lenganku.

"Sshh..." perintahku lirih.

Ia diam. Sedetik. Dua detik. Tiga detik.

"Mak...bulannya hitam, Mak."

Kututup mata rapat-rapat. Terbayang mereka yang berdesakan bersamaku tadi siang. Mereka yang menggencet dan digencet. Mereka yang mampu keluar dari kerumunan dan mereka yang ajalnya dijemput.

Kubuka mataku. Dan, ya, memang benar. Bulan menghitam. Mungkin mereka turut berduka.

"Mak..."

"Iya, Tik...Mak tahu. Bulannya hitam kan?" sahutku perlahan, mengirit sisa energi yang ada.

Ia menggeleng.

"Putik lapar, Mak."

Kupeluk ia erat. Sangat erat.

Kami berpelukan sambil memandang bulan yang menghitam. Putik dengan perut laparnya, aku dengan rasa syukur karena masih diberi kesempatan bernafas dan berjuang demi anakku semata wayang.

September 18, 2008

Bertanya atau Ditanya?

Wenny duduk diam mematung di kursi yang terletak di balkon kamarnya. Matanya menembus gelapnya langit malam yang tak berbintang.

Tiba-tiba seperti ada kilatan di atas kepalanya lalu gambar sebuah bohlam menari-nari di sekelilingnya, seperti bohlam Profesor Lang Ling Lung, hanya saja bohlam Wenny tak bertangan dan tak berkaki.

Kemudian, tangan Wenny membimbing penanya menuliskan sebuah kalimat lagi yang diakhiri dengan tanda tanya besar. Kalimat yang baru itu menduduki urutan ke-tujuh puluh dua.

Selanjutnya, Wenny menutup buku itu, masih dengan wajah puas, tanpa senyum, tapi siapapun yang dapat melihat rautnya saat itu tahu, ia puas. Lama ia menatap tulisan besar di sampul bukunya.

Pertanyaan untuk-Nya

Buku itu sudah dua bulan dimilikinya. Tepatnya semenjak Wenny mengalami hal yang benar-benar mengguncang hidupnya. Entah apa, hanya Wenny yang tahu. Tak seorang pun di luar dirinya yang tahu.

Tapi semua orang tahu, apa pun yang terjadi, kejadian itu telah mengubah Wenny. Ia jadi rajin menulis di buku yang dijulukinya “Pertanyaan untuk-Nya” itu. Tidak, tak seorang pun pernah bisa mengintip apa yang ditulisnya, semua orang hanya menebak-nebak apa yang ditulis Wenny di dalamnya berdasarkan judul itu.

Akhirnya ada juga masanya segelintir orang yang penasaran itu menemukan jawaban atas pertanyaan mereka selama ini, “Apa yang ditulis Wenny di dalam buku itu?”

Pada urutan ke-delapan: “Apa salahku?”

Pada urutan ke-dua puluh tiga: “Kenapa Kau menciptakan pria pertama yang akhirnya Kau usir ke dunia itu?”

Pada urutan ke-dua puluh sembilan: “Mengapa Kau membiarkan mereka menyecap buah itu?”

Pada urutan ke-tiga puluh enam: “Apa gunaku di dunia?”

Pada urutan ke-empat puluh empat: “Apa salah mereka?”

Pada urutan ke enam puluh tujuh: “Maukau Kau menjawab pertanyaanku?”

Pada urutan ke-tujuh puluh tiga: “Aku akhirnya lelah, aku boleh tertidur panjang lalu bertemu dengan-Mu dan menanyakan semua pertanyaanku?”

Malam sebelum segelintir orang itu membaca isi bukunya, Wenny menuliskan pertanyaannya yang terakhir. Dini hari ia mengambil keputusan itu. Keputusan yang salah, keputusan yang tak membuatnya tertidur panjang, hanya membuatnya terbaring di Ruang Gawat Darurat.

Wenny merasa sakit. Ia teringat bukunya. Ia merasa lebih terguncang daripada sebelum ia memutuskan bertanya pada-Nya.

Dua jam penuh rasa sakit membuatnya mengucap istighfar. Namun, di hatinya muncul sebuah kalimat tanya lainnya. Namun kali ini bukan karena ia ingin tahu, tapi karena penciptaan pertanyaan itu sudah menjadi bagian mekanisme hidupnya.

Hanya dua jam lebih dua menit Wenny merasa sakit. Akhirnya Dia menjawab permintaan Wenny untuk tidur panjang.

Tapi segelintir orang yang mengetahui rahasia terdalam Wenny justru menciptakan pertanyaan baru setelah mereka berjalan tujuh langkah meninggalkan makam, “Apakah saat ini Wenny sedang ditanya, atau sedang bertanya, atau…justru tak ditanya sama sekali?”

Pertanyaan yang sama dengan pertanyaan Wenny dalam hati setelah ia mengucap istighfar.

Dan aku menunggu...

Ada kalanya aku merasa lelah. Kupandangi telepon, ingin menyatakan bahwa aku membatalkannya. Bahwa aku lelah menanti.

Dan, aku pun menelepon. Tapi bukan untuk membatalkan. Aku hanya cengengesan mendengar penjelasan mereka mengapa aku harus menunggu sebegitu lama.

Kata mereka, ada harapan.

Aku percaya?

Setengah hati saja.

Mudah-mudahan penantian ini ada akhirnya. Akhir yang dapat membuatku tersenyum.

catatan kecil (cakil) : ini kisah nyata

Kamar Pengap Remang-remang

Dalam ruangan itu ia hanya dapat duduk terpaku. Ardi yang memintanya duduk diam di dalam sana, sendiri. Awalnya ia tak mau, tapi Ardi memaksa.

Ia menyerah, penyerahan diri atas dasar cinta. Cinta, ia mulai mempertanyakan cinta. Pertanyaan yang dulu tak pernah muncul tapi sekarang menguasai setiap sudut kepalanya, karena Ardi.

Kalau Ardi memang mencintainya, kenapa ia dibiarkan sendiri di ruangan ini, sementara Ardi pergi entah ke mana.

“Kamu diam dulu di sini sebentar. Nanti aku kembali,” begitu ucapnya, berusaha meyakinkan.

Tapi ia tak yakin. Ia takut. Ruangan ini hanya remang-remang, cahaya hanya datang dari lampu jalanan. Ia tak tahu berada di mana. Yang ia tahu hanyalah bahwa ia berada di sekitar Depok dan Lenteng Agung. Tapi entah ruangan ini berada di mana di antara kedua daerah itu.

Ia tak tahu bukan karena ketika dibawa ke sini matanya ditutup, bukan. Tapi tadi ia terlalu terfokus dengan degup jantungnya. Ardi bersikap tidak biasa. Ardi berbeda. Dan, bukan hanya karena berada di ruangan itu ia takut, tapi juga karena sikap Ardi.

Ardi terlalu mencintainya, itu memang bagus. Tapi Ardi juga terlalu menginginkannya. Keinginan seorang pria pada seorang wanita. Ia bisa mengerti itu dari cara Ardi menyentuh tangannya, walau sebelum itu ia tak pernah bersentuhan dengan pria mana pun.

Ia masih ngeri. Mungkin sudah lebih dari lima menit Ardi meninggalkannya sendiri dalam ruangan yang mulai pengap itu. Ia berdiri, berusaha berjalan ke arah jendela. Persetan jika Ardi marah karena ia tak duduk diam seperti yang diinginkan Ardi.

Ia menggeser tirai jendela itu. Tapi jendela itu tak dapat dibuka. Sial! Jendela itu tak dapat berfungsi sebagai penghantar angin—atau sebagai alat kabur—, hanya sebagai penghantar cahaya. Yah, paling tidak ruangan ini agak lebih terang.

Entah kamar siapa ini. Yang pasti kamar ini jorok! Di atas sebuah meja yang terletak di sudut, ia dapat menemukan berpuluh puntung rokok yang terletak di atas sebuah asbak mungil yang sepertinya sudah ingin berontak karena lelah menopang semua puntung itu.

Tempat tidur…berantakan. Seprainya menjuntai-juntai ke bawah.

Oh Tuhan, apakah ia akan kehilangan ‘mahkotanya’ di tempat seperti ini? Ini bukan rencananya menghabisi malam pertama. Bukan di tempat kotor ini dan bukan dengan pria yang bahkan belum meminangnya…

Kondom! Jangan-jangan Ardi sedang membeli kondom. Ia mulai semakin dijalari rasa ngeri yang teramat sangat. Ia menghambur ke arah pintu. Terkunci! Ia mulai membenci Ardi. Ia sudah pasti akan memutuskan laki-laki itu. Bahkan kalau sampai ia berani menampakkan wajah sekarang, ia akan menghajarnya habis-habisan. Walau ia tahu, pilihan terakhir barusan bukan ide terbaik. Ia akan mudah dikalahkan oleh lelaki berbadan besar itu.

Krek…

“Hai, sayang. Maaf ya…aku bikin kamu lama menunggu.”

Ia diam, tak membuka mulut.

“Mungkin semua ini nggak romantis. Untuk itu aku minta maaf…tapi…aku cuma mau tunjukkan ke kamu betapa kacau aku sebelum ketemu kamu.”

Ia bingung.

“Ini kamar kosku yang lama. Sebelum aku ketemu kamu. Sekarang semua berbeda. Aku sudah kembali ke rumah. Dan aku mau kamu tahu bahwa kamu begitu besar artinya dalam hidupku.”

Kalau ini caranya merayunya untuk mau tidur dengannya, Ardi salah besar.

“Aku cuma mau kamu terima ini,” Ardi menyodorkan sebuah kotak berbentuk hati, “dan menerimaku apa adanya…”

Dibukanya kotak itu…cincin!

“Ardi, kamu lagi melamar aku???”

Karla

Karla menerjang semua yang ada. Ruangan itu hanya seluas tiga kali empat meter. Sangat kecil dibandingkan dengan yang dulu ia miliki. Tangannya meraih botol air minum yang sudah penyok, lalu dengan sekuat tenaga melemparkannya ke sebuah lemari kayu yang tidak akan pernah bisa memuat baju-bajunya yang kerap ia beli di mall. Meja rias? Tidak berguna lagi, bukan karena ia telah memecahkan cerminnya dengan botol parfum kesayangannya yang menyebabkan serpihan kaca menempel di jarinya yang tengah meneteskan darah, tapi lebih karena ia tidak ingin lagi berdandan. Semua tidak ada gunanya lagi.
Tempat tidur? Sudah basah ditumpahi air dari botol minuman yang penyok itu. Kapuk, bukan busa, bertebaran di mana-mana karena ia telah mencabik-cabik kasurnya dengan sebilah pisau yang kemudian sedang dipandanginya tepat di depan kedua matanya yang merah menyala dan jalang. Ada juga sebuah gunting di pangkuannya. Pisau dilemparkan ke lemari kayu, menancap. Lalu ia menggenggam gunting, memasukkan jari-jarinya ke lubang pemegang yang terbuat dari plasti yang kokoh. Diambilnya sejumput ujung rambutnya yang panjang, lurus tak di-blow seperti dulu, diguntingnya sekitar dua centimeter. Berlanjut, lima centimeter, hingga tersisa hanya dua sampai tiga centimeter dari kulit kepalanya.
Di luar orang telah berkerumun. Semua berusaha mengambil kesimpulan apa yang sedang dikerjakan Karla, penghuni baru kamar kos-kosan di pinggir Jakarta itu.
"Die stress, dulunya tajir kayaknye..." suara pemilik kos-kosan terdengar oleh Karla.
"Sialan semuaaa!!!!" Karla berteriak sekencang-kencangnya sambil menarik pisau yang tertancap di lemari dan menusukkannya ke perutnya, darah di mana-mana.
Mata Karla terbuka lima hari kemudian di sebuah rumah sakit. Banyak orang di sekelilingnya. Ia berada di bangsal. Bau tak sedap di mana-mana. Hanya beberapa detik matanya terbuka untuk kemudian tertutup lagi, dan tak pernah akan terbuka lagi.

Detik Terakhir

Mereka sedang duduk di tepi sungai Seine, di bawah sebuah pohon rindang. Michel duduk bersandar pada pohon, Gadis meringkuk dengan kepala bertopang pada paha Michel. Tiada kata-kata.

Mata mereka menatap sungai yang dilalui berbagai jenis perahu, kecil dan besar. Di atasnya duduk dan berdiri begitu banyak manusia yang sedang melepas penat. Turis lokal maupun manca negara. Lalu lalangnya perahu menghidupkan sungai yang membelah kota Paris. Keceriaan para turis mencerahkan suasana.

Namun hati pasangan di bawah pohon tidak terpengaruh keceriaan itu, sama sekali. Terkadang Gadis menghela nafas, bergantian dengan Michel. Tetap tiada kata-kata. Sunyi di antara hingar bingar kebahagiaan penikmat sungai dan kota yang indah itu.

Gadis menegakkan tubuh, menatap Michel dengan dua bola mata hitamnya, sehitam rambutnya yang panjang melewati bahu. Tangan Michel menyentuh rambut legam itu, namun matanya tetap mengarah ke sungai. Gadis mengecup pipi kiri Michel yang memang menghadap langsung ke wajahnya. Michel menundukkan kepala. Gadis meraihnya, memegang kedua pipinya menengadahkan kepala Michel. Dikecupnya kening lelaki itu, dielusnya rambut pirang keriting lelaki itu, diusapnya kedua pipi lelaki itu, dengan segenap kelembutan yang ia miliki.

Michel beranjak dari duduknya. Diraihnya tangan kanan Gadis. Ia berjalan menuju jembatan penghubung sisi lain kota Paris. Gadis mengikuti di sisinya. Kelima jari Gadis erat memegang kelima jari Michel, begitu pun sebaliknya. Mereka memasuki lorong menuju Métro.

Beberapa saat kemudian mereka tiba di Airport Charles de Gaulle. Mereka akan berpisah segera. Kedua orang tua Gadis telah menunggu di sana. Michel mengikuti Gadis dan kedua orang tuanya dari belakang. Hanya beberapa langkah, Gadis berbalik dan memeluk Michel erat. Mulutnya hendak berucap. Michel menahannya dengan jari telunjuknya. Lama jari itu berada di atas bibir Gadis. Orang tua Gadis telah memanggil. Michel menarik jarinya, berbalik dan berjalan perlahan meninggalkan Gadis dan air matanya.

Mereka telah berjanji untuk tidak berkata-kata pada detik-detik terakhir Gadis di Paris, berjanji untuk tidak mengumbar janji apapun. Bagi mereka, jika takdir adalah milik mereka, maka takdir tidak akan mengingkari janjinya. Tiada kata-kata, hanya dua pasang mata yang sarat makna.