Perawan

Dia hanya duduk mematung. Matanya menatap kaget pada layar monitor. Sebuah simbol wajah bundar yang biasanya dipanggil smiley face justru tidak sedang tersenyum, melainkan mengeluarkan butiran-butiran air mata. Lalu ada kalimat yang mengiringi.

pretty_babe: dia merenggutnya kemaren malam, mas.
inilahsaya: kenapa kamu kasih?
pretty_babe: aku cinta dia, mas.
inilahsaya: ya udah, jangan nangis kalo gitu.

Dia pun log off, tidak ingin lagi bicara dengan siapa pun di dunia maya itu. Hatinya lelah. Setiap dia masuk ke chat room, ia akan berkenalan dengan banyak gadis. Ada yang single, ada yang sudah menikah, atau kumpul kebo kalau di luar negri. Ada yang masih perawan, ada yang sudah kehilangan, menghilangkan atau dihilangkan keperawanannya.

Yang baru saja diajaknya bicara entah berada di kategori kehilangan, menghilangkan atau dihilangkan. Sepertinya ia menyesal tapi kenapa ia bilang bahwa ia mencintai pria itu. Gadis pretty_babe itu telah dikenalnya sejak setengah tahun yang lalu di sebuah chat room dewasa. Umurnya baru enam belas lebih enam bulan saat itu. Sekarang sudah tujuh belas.

Padahal dia menyukai gadis itu. Mereka memang belum pernah bertemu, hanya bertukar foto. Rencananya dia akan mengajaknya makan malam pada hari ulang tahunnya, kemarin malam. Tapi seminggu yang lalu gadis itu bercerita bahwa ia baru ditembak seorang cowok yang ia kenal di chat room. Gagal. Setelah pengakuan pretty_babe tadi, dia akhirnya berniat untuk memblokir nick name gadis itu dari daftar teman chatnya. Bukan berlagak suci tapi dia kecewa.

- 1 tahun kemudian -

Dia berjalan-jalan di mall, sendiri. Pagi hari, di hari jum'at. Da berdiri di lantai 1 memandang ke bwah dengan bersandar pada tiang. Melihat para pengunjung berlalu lalang.

Bahunya ditepuk.

Pretty_babe. Perutnya buncit. Wajah pretty_babe menyunggingkan senyum. Perutnya buncit. Pretty_babe mengecup kedua belah pipinya. Perutnya buncit.

Hatinya menangis.

3 comments:

Pembaca setia said...

dengan cinta segalanya jadi ok yaah :)

N A 1977 said...

Iya banget..

Thanks Mr. B...for dropping by...
Gak nyangka punya pembaca setia
:D

Ibrahim Basarewan said...

Inilah semangat sastra, semua menulis. Mengalirkan imajinasi. Tapi semangat wanita. Ini semangat roh (spirit)Kartini yang menjelma di semua sastrawati.