Hari ini aku berniat untuk tidak ke mana-mana. Hawa dingin di luar membuatku malas bergerak. Dan, aku benar-benar berharap tak harus bergerak.
Gerakan itu bisa membuka kedua mataku akan keadaan yang harus kuhadapi walau aku tak ingin. Aku hanya ingin meringkuk diselimuti hawa dingin sambil memejamkan mata.
Tapi, aku harus bergerak. Aku harus membuka mata.
Mas Wan berangkat pagi ini. Aku benci setiap kali harus menerima kenyataan bahwa aku tak bisa mengelak dari tugas mengantarnya sampai di pintu dan berdo'a dalam hati agar pesawat yang akan dikemudikannya akan selamat sampai tujuan.
"May, ayo bangun dong..."
Tangan Mas Wan lembut mengusap punggungku. Aku berbalik dan memeluknya.
"May, jangan begitu dong. Setiap kali aku harus terbang, seakan itu penerbangan terakhirku. Kamu selalu layu dan tak bersemangat. Aku butuh istri yang kuat."
Ah, Mas Wan...sewaktu melamarku, kamu tidak mengatakan apa-apa soal butuh istri yang kuat. Aku memang lemah. Aku takkan sanggup selalu harus menenangkan diri dan menunggu saat-saat kamu menelepon dari sisi dunia yang lain.
Tapi, aku tak punya pilihan, bukan? Tak mungkin aku memaksamu meninggalkan pekerjaan yang kamu cintai?
Jadi, kamu juga tak punya pilihan, Mas. Kamu harus menerimaku sebagai istrimu yang terlalu menyayangimu, yang selalu ketakutan kehilanganmu, yang selalu akan bersikap aneh setiap kamu akan terbang.
Menerima
Permalink
| 1 comments
|
Labels: Indonesian
The Key to The House with The Windows Closed

The windows to the small house on the other side of the hill were always closed. They were dusty. They were dark. I had never been allowed to go there.
I asked Mom once, "Who lives there, Mom?"
She didn't answer.
And then, one early morning, I decided to check it out my self. I was nine, and I thought I was big enough to make a decision. And it would be visiting the house of which windows were never opened.
It was summer. All my friends were leaving town. I was practically the only child left without any vacation plan at all. Mom said we were lucky enough to get food to eat everyday, a vacation would cost one year without food.
Monty, my best friend, asked Mom if I could go with him. But, of course, with dignity Mom said no.
So, I thought, the dark house would be my summer fiesta. Alone, by myself.
So, I took all the tools I thought I might have needed to get into the house. A hammer, some nails, and anything I could find in the attic. All filled my tiny bag.
"Where are you going?" Mom asked during breakfast.
"To the lake," I answered with a trembling voice.
"No, you're not."
"Yes, I am."
"I know it, Mark. You're going there, aren't you?"
I nodded. Mom could always tell when I lied.
"I think, it might be time for you to know."
"Know what?"
"I'm sorry I have to tell you this, Mark. But there's the place where you might find your Dad's soul. He was murdered there. I know I told you that he died as a soldier. Well, he didn't. We got robbed and he wanted to save us. You were only 7 months by then. He got shot on the head. I could not live there any longer. Yet, no one wanted to buy it, knowing the story. So, I moved in here."
I didn't say anything. It must have been painful for her to tell me that. But, I left to the house anyway, in the afternoon. With a key, given by Mom. The key to my past, to her painful past.
Permalink
| 2
comments
|
Labels: English
Bulan Hitam
"Mak, bulannya hitam," ujar Putik, anakku.
"Hmmhh..." aku tak mampu berkata-kata. Tubuhku letih, kepalaku penat, hatiku lelah.
"Mak...Mak...Emak!" tangan mungilnya mengguncang lenganku.
"Sshh..." perintahku lirih.
Ia diam. Sedetik. Dua detik. Tiga detik.
"Mak...bulannya hitam, Mak."
Kututup mata rapat-rapat. Terbayang mereka yang berdesakan bersamaku tadi siang. Mereka yang menggencet dan digencet. Mereka yang mampu keluar dari kerumunan dan mereka yang ajalnya dijemput.
Kubuka mataku. Dan, ya, memang benar. Bulan menghitam. Mungkin mereka turut berduka.
"Mak..."
"Iya, Tik...Mak tahu. Bulannya hitam kan?" sahutku perlahan, mengirit sisa energi yang ada.
Ia menggeleng.
"Putik lapar, Mak."
Kupeluk ia erat. Sangat erat.
Kami berpelukan sambil memandang bulan yang menghitam. Putik dengan perut laparnya, aku dengan rasa syukur karena masih diberi kesempatan bernafas dan berjuang demi anakku semata wayang.
September 18, 2008
Permalink
| 0
comments
|
Labels: Indonesian
I love you too, James…
What could I say more? He deserved it. The most handsome man at this university told me that he loved me.
No, no initial dates, no approaches whatsoever. He just came to me in a nice lunchtime. He sat in front of me, watching me swallowing a big homemade sandwich.
He said nothing until I decided to look at him and, “Yes?”
“Mita, I love you.”
I smiled, and said, “Well, I love you too, James,” with my wondering face.
“I mean it.”
“I didn’t.”
“Oh…”
He started to jump out of his seat…and…
“Wait!” I said.
He took the seat again.
“What was that?” I asked.
“Just telling you how I feel.”
“Ok. Why?”
“Just wanted to.”
“No, I meant…not why you told me that but why do you love me?”
“You’re pretty and smart.”
Oh, James! You’re driving me crazy.
“Well, you’re also handsome and smart. But I don’t think those are the only reasons one would say those three words towards someone else.”
“For me, they could be.”
“Did you bet on me?”
Oh, Mita, come on! You’re not the most beautiful girl or the ugliest one that man would make a bet of. Get real!
“Of course not,” answered James with his beautiful smile.
“Ok…so, you just came to me, said those word, and then what? I don’t think that’s normal…I mean, from where I came from, although it’s not the most modern country, I know, before saying those words, there should be, you know, like dates or stuff.”
“So, let’s go for a date.”
“No problem.”
“I’ll pick you up at 7 at your place.”
“You know my place?”
He smiled and left me just like that.
I called him, “James!”
He turned, “Yes?”
“Come…”
He came to me, stood beside me.
“In a way, I love you too, James. And, I meant what I’ve just said.”
He smiled and left me just like that.
Ok, let me see…the most wanted man in this big university had chosen me? Told me that he loved me out of nowhere?
And I just told him the same thing? Out of nowhere?
Oh, well, he deserved it. The most handsome and the smartest man!
I can’t believe it!
…
Permalink
| 0
comments
|
Labels: English
Bertanya atau Ditanya?
Wenny duduk diam mematung di kursi yang terletak di balkon kamarnya. Matanya menembus gelapnya langit malam yang tak berbintang.
Tiba-tiba seperti ada kilatan di atas kepalanya lalu gambar sebuah bohlam menari-nari di sekelilingnya, seperti bohlam Profesor Lang Ling Lung, hanya saja bohlam Wenny tak bertangan dan tak berkaki.
Kemudian, tangan Wenny membimbing penanya menuliskan sebuah kalimat lagi yang diakhiri dengan tanda tanya besar. Kalimat yang baru itu menduduki urutan ke-tujuh puluh dua.
Selanjutnya, Wenny menutup buku itu, masih dengan wajah puas, tanpa senyum, tapi siapapun yang dapat melihat rautnya saat itu tahu, ia puas. Lama ia menatap tulisan besar di sampul bukunya.
Pertanyaan untuk-Nya
Buku itu sudah dua bulan dimilikinya. Tepatnya semenjak Wenny mengalami hal yang benar-benar mengguncang hidupnya. Entah apa, hanya Wenny yang tahu. Tak seorang pun di luar dirinya yang tahu.
Tapi semua orang tahu, apa pun yang terjadi, kejadian itu telah mengubah Wenny. Ia jadi rajin menulis di buku yang dijulukinya “Pertanyaan untuk-Nya” itu. Tidak, tak seorang pun pernah bisa mengintip apa yang ditulisnya, semua orang hanya menebak-nebak apa yang ditulis Wenny di dalamnya berdasarkan judul itu.
Akhirnya ada juga masanya segelintir orang yang penasaran itu menemukan jawaban atas pertanyaan mereka selama ini, “Apa yang ditulis Wenny di dalam buku itu?”
Pada urutan ke-delapan: “Apa salahku?”
Pada urutan ke-dua puluh tiga: “Kenapa Kau menciptakan pria pertama yang akhirnya Kau usir ke dunia itu?”
Pada urutan ke-dua puluh sembilan: “Mengapa Kau membiarkan mereka menyecap buah itu?”
Pada urutan ke-tiga puluh enam: “Apa gunaku di dunia?”
Pada urutan ke-empat puluh empat: “Apa salah mereka?”
Pada urutan ke enam puluh tujuh: “Maukau Kau menjawab pertanyaanku?”
Pada urutan ke-tujuh puluh tiga: “Aku akhirnya lelah, aku boleh tertidur panjang lalu bertemu dengan-Mu dan menanyakan semua pertanyaanku?”
Malam sebelum segelintir orang itu membaca isi bukunya, Wenny menuliskan pertanyaannya yang terakhir. Dini hari ia mengambil keputusan itu. Keputusan yang salah, keputusan yang tak membuatnya tertidur panjang, hanya membuatnya terbaring di Ruang Gawat Darurat.
Wenny merasa sakit. Ia teringat bukunya. Ia merasa lebih terguncang daripada sebelum ia memutuskan bertanya pada-Nya.
Dua jam penuh rasa sakit membuatnya mengucap istighfar. Namun, di hatinya muncul sebuah kalimat tanya lainnya. Namun kali ini bukan karena ia ingin tahu, tapi karena penciptaan pertanyaan itu sudah menjadi bagian mekanisme hidupnya.
Hanya dua jam lebih dua menit Wenny merasa sakit. Akhirnya Dia menjawab permintaan Wenny untuk tidur panjang.
Tapi segelintir orang yang mengetahui rahasia terdalam Wenny justru menciptakan pertanyaan baru setelah mereka berjalan tujuh langkah meninggalkan makam, “Apakah saat ini Wenny sedang ditanya, atau sedang bertanya, atau…justru tak ditanya sama sekali?”
Pertanyaan yang sama dengan pertanyaan Wenny dalam hati setelah ia mengucap istighfar.
Permalink
| 0
comments
|
Labels: Indonesian